Halaman

Tampilkan postingan dengan label TATA KELOLA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TATA KELOLA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 November 2010

PERHATIAN SEBELUM MEMELIHARA

Pesona kelinci yang begitu menawan membuat setiap orang mudah tertarik untuk memelihara. Sayangnya sebagian besar calon pemelihara tidak tahu menahu seluk-beluk pemeliharaan kelinci secara tepat. Banyak dari mereka yang hanya belajar beberapa menit, itupun dari orang-orang yang tidak tahu menahu seluk-beluk perkelincian.
Akibatnya kematian demi kematian melanda kelinci. Kita patut berduka karenanya. Maka dari itu, Kabar Kelinci Indonesia berpesan kepada calon pemelihara kelinci untuk memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

1.    Jangan membeli kelinci sebelum belajar. Bacalah banyak materi-materi kelinci sebanyak mungkin mulai dari karakter hewan, umur, pola pemeliharaan, makan/minum, perawatan, perkawinan dan seterusnya. Materi-materi yang ada pada situs ini bisa menjadi referensi dasar untuk memasuki pengetahuan lanjut. Setelah itu kita bisa menambah wawasan lebih mendalam dari buku-buku kelinci dan kemudian dilanjut studi lapangan ke peternak yang bisa dipercaya. Jangan berpikir bahwa harga buku atau biaya print dari materi ini mahal. Pilih buku yang lengkap dan jangan memilih asal murah karena biasanya tidak banyak menjawab persoalan. Jika tidak berat hati, belilah banyak buku sebagai sumber perbandingan ilmu pengetahuan. Semahal-mahalnya belanja buku dan bacaan lain tak akan melebihi Rp 100.000. Harga itu akan lebih baik dikeluarkan daripada nanti membuat kita kebingungan saat merawat dan akhirnya menyia-nyiakan nyawa kelinci.

2.    Jalin hubungan dekat dengan peternak lama, yang minimal sudah beternak lebih 2 tahun sebagai konsultan saat-saat terjadi masalah dengan kelinci Anda. Terus menerus bertanya, terlebih hal-hal mendasar dan sepele memang membuat kita malu dan menganggu. Karena itulah jangan sampai buku dan bacaan lain yang sudah dibeli tidak dibaca sungguh-sungguh. Dengan mengetahui teori-teori dasar dari buku dan bacaan lain kita bisa meminimalisir pertanyaan yang remeh-temeh. Ilmu yang terserap dari bacaan juga akan membuat kita lebih murah menggali ilmu secara langsung karena secara otomatis tidak akan memboroskan pulsa dan biaya perjalanan.

            Sekiranya sudah mengetahui dari bacaan dan diskusi tetapi merasa kerepotan dan kesulitan jangan buru-buru memelihara sebab nanti akan merepotkan kehidupan pribadi. Jika merasa bisa melakukan, tunda nafsu belanja kelinci lebih banyak. Tetaplah memelihara sedikit kelinci terlebih dahulu, baru kemudian setelah berjalan 6-7 bulan kita bisa berpikir mengembangkan lebih banyak.

PARADIGMA DASAR WIRAUSAHA KELINCI

-Ikhtiar Memajukan Peternakan Kelinci Melalui Investasi dan Pemberdayaan
Sebelum masuk ke pembahasan tentang ternak kelinci, mari kita memakai landasan berpikir lebih mendasar dalam hal ini. 
Mula-mula dalam melihat “ternak kelinci” kita mesti memakai dua kombinasi pemikiran, yakni abstrak dan praktis. Keduanya sangat penting. Sekalipun bidang usaha sangat didominasi oleh hal-hal yang pragmatis, tetapi untuk menguasai komponen pragmatisme itu mestilah menguasai abstraksi. Dengan paradigma yang baik, kita bisa melihat secara gamblang ragam kerumitan yang terjadi di dalamnya.

Kata potensi memang perlu didudukkan pada awal pembicaraan kelinci karena memang disitulah ketertarikan kita semua: utamanya sebagai pendulang uang, selainnya ialah alternatif untuk pemberdayaan masyarakat desa, peluang bisnis dan selebihnya ialah untuk hobies. Tiada salah kita meletakkan uang sebagai tujuan. Bahkan dalam banyak hal saya menyarankan uang menjadi sasaran utama. Tetapi di sini paradigma tentang uang juga mesti ditafsir secara tepat, yakni sebagai “efek” dari kecanggihan kita mengolah potensi. Sebab sebesar apapun potensi dan semudah apapun mengurus pekerjaan, jika tidak diolah (dikelola) secara baik niscaya akan terlantar.

Dari kacamata kewirausahaan, setiap hal memang memiliki peluang karena kelebihannya. Kelebihan kelinci diantaranya ialah kecepatan reproduksi, cocok untuk usaha rakyat kecil, banyak manfaat, masih sangat minim pemelihara dan pasar sangat luas terbuka. Bahkan kami punya keyakinan, sampai beberapa tahun ke depan bisnis kelinci tiada butuh persaingan. Dengan kata lain, dari sisi produksi bisa cepat, banyak manfaat, bisa dikerjakan banyak orang, bisa dengan modal murah, dan menjualnya pun ”mudah.”


Masalahnya, Kenapa Selama Ini Terabaikan Oleh Masyarakat Kita?
Pertanyaan ini perlu saya ajukan sebelum nanti kita kembali membahas masalah mengelola potensi kelinci. Beberapa alasan sudah saya sampaikan di Buku Ternak Uang (Nuansa Cendekia Juli 2009). Pertama, masyarakat kita sudah jauh dari “ideologi” beternak maupun bertani. Kedua, tidak memiliki lahan dan sarana pendukung, seperti pasokan rumput, pengelolaan pakan dan lain sebagainya. Ketiga, kelinci impor dengan model pemeliharaan modern untuk skala besar belum banyak diketahui masyarakat.Tiga alasan dengan penjelasan lebih detail dalam buku ternak uang tersebut saya kira sudah cukup untuk menjawab. Tetapi ada baiknya saya tambahkan satu hal lagi, yakni bahwa ketidakseriusan pemerintah dalam melihat peluang ini. Akan menjadi lain masalahnya manakala pemerintah bersikap serius dan agresif seperti Cina dan Vietnam di mana di kedua negara itu kini sudah merasakan potensi peluang usaha kelinci, terutama di Cina.
Dua hal yang mendasar dari ketidakseriusan pemerintah itu diantaranya ialah tidak melihat para peternak kelinci sebagai aset dan memberikan insentif bibit unggul dan pemberdayaan secara serius. Bagaimanapun juga, di mana pun juga, setiap usaha tidak sekedar butuh modal uang, melainkan juga ilmu pengetahuan dan urusan pasar. Kalau kita selalu melihat bahwa negara punya kewajiban mencerdaskan rakyatnya, maka di sinilah terlihat jelas bagaimana peranan negara kita tidak nyambung. Seolah-olah pendidikan hanya dalam ruang lingkup akademisi semata.
Hal ini sangat terasa manakala berbagai penemuan lapangan setiap kali Pemerintah Daerah (Pemda) mengadakan pemberdayaan ternak kelinci hanya difokuskan adalah insentif modal uang semata. Di Jawa Barat banyak peternak hasil “pemberdayaan” Pemda gagal total karena ketidakseriusan memperhatikan SDM.

Landasan Ilmu
Kembali ke soal peluang, maka sesungguhnya hal yang terpenting dari maju dan tidaknya ternak kelinci secara modern (dari hulu ke hilir = dari kandang ke pasar) sangat membutuhkan pasokan ilmu pengetahuan yang kuat, motivasi yang handal serta komitmen menjadi usahawan kelinci sejati. Pengalaman di lapangan membuktikan, bahwa kemiskinan ilmu pengetahuan lebih berbahaya ketimbang kemiskinan materi (modal uang). Kita harus mendudukkan bahwa kebodohan dan kemiskinan ini adalah ratai kasar, belenggu, yang harus dilepaskan terlebih dahulu. Tetapi kalau keduanya tidak bisa dilepaskan seketika, maka saya akan mengusulkan lebih penting melepaskan belenggu kebodohan terlebih dahulu, baru kemudian kita melepaskan kemiskinan.
Strategi konkretnya untuk meraih sukses sebuah peternakan di kalangan kaum tani bisa kita mulai dengan pemberdayaan di beberapa orang, maksimal 10 orang. Dari 10 orang ini saja mesti dibutuhkan leadership yang handal. Jika tidak ada leader dari salahsatu peternak tersebut dipastikan sulit berkembang karena biasanya dalam masa sulit peternak pemula yang kurang tangguh sering gulung tikar. Dengan ada leader yang kuat, diharapkan mereka yang gulung tidak tidak mempengaruhi peternak lain yang belum berkembang bagus.
Dalam skala memulai usaha ternak bersama dengan jumlah lebih sedikit, yakni 3-5 orang manajemen kontrol barangkali lebih mudah. Dengan pola kecil merayap tetapi serius ini, diharapkan tingkat kerugian lebih kecil. Manajemen ini saya ajukan sebagai pola konservatif, tetapi memiliki resiko yang kecil. Memang sedikit agak lambat, tapi lebih aman. Sedangkan bagi yang menginginkan gerakan lebih cepat saya ajukan usulan untuk beternak sendiri terlebih dahulu selama satu sampai 1,5 tahun, baru kemudian menularkan modal bibit ke peternak lain. Selama masa setahun ini kita bisa menggaulkan orang terdekat untuk menimba ilmu pengetahuan. Baru kemudian diseriuskan ke arah peternakan yang lebih banyak dan dibesarkan.
Adapun untuk peternak yang memulai usaha untuk sendiri barangkali lebih mudah karena tidak perlu memobilisasi ilmu kepada orang lain. Ternak individu adalah langkah awal yang lebih efektif. Berniat sendiri, bermodal sendiri, kreatif sendiri, menggembleng pemikiran dan etos kerja sendiri adalah pilar dasar yang paling baik. Setelah kelak sukses barulah kemudian ilmu pengetahuan dan pengalamannya ditularkan. Selama tidak pelit dan memiliki semangat sosial yang tinggi, orang seperti ini akan menjadi panutan banyak peternak lain, sebagai contoh adalah Asep Sutisna, ketua Paguyuban Peternak Kelinci di Lembang Bandung atau Ren Zuping dari China.

Kita bisa berkaca pada dunia pertanian (tradisional) dan agribisnis(wirausaha tani modern). Di sana memang terletak jurang permodalan yang sangat besar, tetapi di luar modal sesungguhnya ilmu pengetahuan menjadi pembeda yang paling substansial untuk menyatakan bahwa pertanian itu identik dengan kemiskinan sementara agribisnis sarat dengan kemakmuran dan stabilitas penghasilan. Dalam peternakan modern (terkait dengan konsep domestifikasi ternak kelinci ini), maka kita pun mesti berpikir demikian.
Kita sering berpikir bahwa memelihara kelinci itu mudah karena masyarakat kita sudah terbiasa dengan kelinci. Logika itu sangat menyesatkan karena kelinci umbaran terbukti tidak menghasilkan nilai ekonomis yang baik. Di sini kita harus memperhatikan apa itu domestifikasi peternakan. Beberapa hal yang penting ialah bahwa, pertama perawatan kelinci secara domestik adalah memenjarakan kelinci (hewan liar) dalam sebuah kehidupan yang sempit. Kita mesti memakai pola kehidupan yang membuat kelinci benar-benar nyaman, senang dan kerasan, terhindar dari stress sehingga mampu berproduksi secara baik.
Satu hal ini saja seringkali diabaikan. Terlihat di berbagai kandang petani kebersihan, pasokan makanan dan kenyamanan sering diabaikan. Karena itulah saya sering melihat kenyataan ini mengakibatkan tingkat produktivitasnya rendah dibanding dengan peternak yang benar-benar berilmu dan berpikir maju.
Kedua, dari berbagai praktik peternakan, ternyata mereka para peternak yang bertahan lama memiliki rasionalitas dan etos kerja yang baik. Rasionalitas dalam hal ini bukan semata diukur kecerdasan akademik, melainkan lebih pada sikap sungguh-sungguh dalam belajar dan serius menerapkan teori-teori sekaligus kreatif dalam mengatasi setiap masalah, terutama dalam hal problem pakan dan kesehatan.
Jadi masalahnya bukan terletak pada bakat/waris atau tidaknya, melainkan bagaimana bersungguh-sungguh dalam menerapkan paradigma ternak yang berpijak pada ilmu ternak. Karena itu kalau bicara ideal tentang pemberdayaan awal ternak di suatu desa yang belum memahami ternak kelinci domestik mestinya akan lebih bagus jika dirintis lebih sedikit orang tetapi dalam setahun kemudian mampu memproduksi banyak kelinci, baik untuk bibit masyarakat sekitar maupun untuk pembukaan usaha pasca panen.
Dengan kesuksesan satu orang itu saja, kita tidak butuh meyakinkan secara lisan bahwa kelinci memiliki potensi. Masyarakat kita adalah masyarakat berpikir empiris. Manakala diceritakan secara lisan maupun tulisan mereka tidak akan yakin dan fatalnya jika melihat kesuksesan itu secara fenomenologis, mereka menganggap diri mereka sudah mahir dan langsung tancap gas. Akibatnya sering fatal. Tetapi manakala sudah melihat secara empiris dalam kurun waktu yang cukup lama, berbulan-bulan, dengan sendirinya mereka akan menyaksikan bagaimana proses dan kesuksesan itu berjalan secara sebanding.
Rasanya memang tidak terlalu penting mengampanyekan potensi kelinci kepada masyarakat secara terus-menerus. Sebab, kalaupun masyarakat petani percaya dan langsung beternak, tidak banyak yang membuktikan kesuksesan. Masalah-masalah yang membuat ternak gagal biasanya bukan pada penjualan, melainkan pada level produksi, terutama mengatasi angka kematian yang tinggi, rendahnya produktivitas dan di luar itu satu masalah lagi ialah kurang seriusnya menjadi peternak.
Kekurang-seriusan menjadi peternak kelinci ini biasanya karena salah dalam melihat kelinci sebagai hewan yang pemeliharaannya harus dibedakan dengan ternak ayam, kambing dan sapi. Di sini soal mentalitas dan etos kerja mesti diperhatikan sungguh-sungguh. Karena itu akan lebih penting dan mendasar manakala kita memberikan bukti kepada masyarakat dengan memperkuat satu dua peternak di daerah untuk kemudian menjadi leader bagi warga sekitar, melebar hingga dua kecamatan. Kalau kelak kemajuan sudah mencapai tahap yang lebih luas, di situ kita akan bicara tentang pentingnya koperasi sebagai pilar dasar kebersamaan dalam menghadapi problematika pasar.