Halaman

Rabu, 17 November 2010

PERHATIAN SEBELUM MEMELIHARA

Pesona kelinci yang begitu menawan membuat setiap orang mudah tertarik untuk memelihara. Sayangnya sebagian besar calon pemelihara tidak tahu menahu seluk-beluk pemeliharaan kelinci secara tepat. Banyak dari mereka yang hanya belajar beberapa menit, itupun dari orang-orang yang tidak tahu menahu seluk-beluk perkelincian.
Akibatnya kematian demi kematian melanda kelinci. Kita patut berduka karenanya. Maka dari itu, Kabar Kelinci Indonesia berpesan kepada calon pemelihara kelinci untuk memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

1.    Jangan membeli kelinci sebelum belajar. Bacalah banyak materi-materi kelinci sebanyak mungkin mulai dari karakter hewan, umur, pola pemeliharaan, makan/minum, perawatan, perkawinan dan seterusnya. Materi-materi yang ada pada situs ini bisa menjadi referensi dasar untuk memasuki pengetahuan lanjut. Setelah itu kita bisa menambah wawasan lebih mendalam dari buku-buku kelinci dan kemudian dilanjut studi lapangan ke peternak yang bisa dipercaya. Jangan berpikir bahwa harga buku atau biaya print dari materi ini mahal. Pilih buku yang lengkap dan jangan memilih asal murah karena biasanya tidak banyak menjawab persoalan. Jika tidak berat hati, belilah banyak buku sebagai sumber perbandingan ilmu pengetahuan. Semahal-mahalnya belanja buku dan bacaan lain tak akan melebihi Rp 100.000. Harga itu akan lebih baik dikeluarkan daripada nanti membuat kita kebingungan saat merawat dan akhirnya menyia-nyiakan nyawa kelinci.

2.    Jalin hubungan dekat dengan peternak lama, yang minimal sudah beternak lebih 2 tahun sebagai konsultan saat-saat terjadi masalah dengan kelinci Anda. Terus menerus bertanya, terlebih hal-hal mendasar dan sepele memang membuat kita malu dan menganggu. Karena itulah jangan sampai buku dan bacaan lain yang sudah dibeli tidak dibaca sungguh-sungguh. Dengan mengetahui teori-teori dasar dari buku dan bacaan lain kita bisa meminimalisir pertanyaan yang remeh-temeh. Ilmu yang terserap dari bacaan juga akan membuat kita lebih murah menggali ilmu secara langsung karena secara otomatis tidak akan memboroskan pulsa dan biaya perjalanan.

            Sekiranya sudah mengetahui dari bacaan dan diskusi tetapi merasa kerepotan dan kesulitan jangan buru-buru memelihara sebab nanti akan merepotkan kehidupan pribadi. Jika merasa bisa melakukan, tunda nafsu belanja kelinci lebih banyak. Tetaplah memelihara sedikit kelinci terlebih dahulu, baru kemudian setelah berjalan 6-7 bulan kita bisa berpikir mengembangkan lebih banyak.

Kebutuhan Mendasar Saat Ini


C.    Kebutuhan Mendasar Saat Ini
1) Bibit unggul. Untuk kelinci pedaging jenis new Zealand dan Flemish giant dan jenis kelinci lain sangat mendesak. Lebih utama kalau kita mendapatkan bibit unggul langsung dari peternakan kelinci di Amerika, atau Inggris.
Hal ini diperlukan supaya ada peremajaan induk dan dari sisi jenis tetap terjaga sehingga para peternak bisa memilih keturunannya secara lebih mudah. Jika ada sebuah peternakan untuk Induk barangkali akan menjadi sentra indukan yang paling terkemuka saat ini dan itu sangat bermanfaat bagi keberlangsungan peternak lain. Keuntungan dalam hal ini sangat tinggi dan sangat potensial. Berhubung mengelola bibit sangat butuh ilmu dan pengalaman yang baik maka disarankan agar dikelola oleh peternak yang sudah handal. Soal keuntungan bisa dibaca di buku Ternak Uang.
Masih terkait dengan potensi induk, seyogianya rintisan awal peternak memperhatikan induk yang baik (sekalipun tidak impor). Hasil studi penulis di beberapa daerah di Jawa Barat, keturunan yang kurang baik sangat mempengaruhi tingkat produktivitas, jenis dan kualitas daging. Karena itulah konsep leader yang saya bicarakan di atas tersebut sangat berkaitan dengan kepemimpinan dalam induk berkualitas; sebab hal ini akan terkait dengan kemajuan peternakan di sekitar kita.

Seperti Apa Bibit Kelinci Yang Baik

Pemilihan bibit sangat tergantung dengan keinginan  dan kemampuan modal dari peternak, namun secara garis besar bibit yang dipelihara peternak biasanya berdasarkan pada jenis, umur, bentuk luar tubuh, daya pertumbuhan dan temperamen/sifat  dari  ternak kelinci.
Dalam pemilihan bibit / bakalan diusahakan dengan mempertimbangkan bibit  kelinci yang  mempunyai riwayat kesehatan yang jelas, kalau perlu riwayat induknya harus diketahui, terutama penyakit yang pernah diindapnya apakah membahayakan, usia ternak kelinci yang masih muda (bukan anakan atau remaja) dan bagian bagian / organ tubuh, serta pertumbuhan kelamin normal dan tidak   mandul.
Umur kelinci dapat dilihat dari panjang dan warna kuku, semakin panjang kukunya, berarti semakin tua usianya, begitu juga warna, semakin warna gelap dan tebal, berarti semakin tua. Kemudian mata semakin sipintdi pangkal, juga makin tua, serta posisi perut, semakin tua usia kelinci, semakin turun perutnya.
Untuk  riwayat kesehatan kelinci, usahakan minta catatan / recording ternaknya  pada peternak, jenis obat yang telah diberikan, jenis penyakit yang pernah di idapnya dan bila perlu tahu riwayat kesehatan induknya. Kondisi kelinci harus tegap, kuat, kotoran normal (tidak kecil), punggung tegak bengkokan dan jangan diambil kalau ada gejala penebalan bulu (gimbal). Ingat puting kelinci normal adalah delapan, serta bulu kaki menutupi kuku
Mata kelinci yang sehat adalah mata bulat  dan bersinar, tidak berair dan jarang berkedip. Bila tidur posisi miring. Jangan memilih kelinci yang ekor dan anusnya kotor (walau dibersihkan oleh si empunya, pasti masih kelihatan), dan jangan mengambil kelinci yang  suka malas berdiri, bulu rontok (kecuali indukan, kadang bisa rontok karena perubahan hormon), dan usahakan mengambil kelinci dari penangkaran. Pilihlah kelinci yang bertemperamen rendah, tidak galak.
Tidak kalah pentingnya, jangan percaya omongan penjual, sehingga kami sarankan bila cari bibit kelinci ke penangkar saja, jelas riwayat dan recordingnya jelas.
2) Investasi. Indonesia masih terbilang miskin stok kelinci. Satu sebab karena pemerintah belum memberikan insentif yang serius. Pemerintah setiap tahun mengimpor bibit sapi dan domba, tetapi tak pernah terdengar kabar mengimpor bibit kelinci. Kita hanya mendengar pada tahun 1980 Presiden Soeharto mencarikan bantuan bibit kelinci unggul kepada para peternak kelinci di kawasan Setiabudi melalui usaha loby Ma’mur Suriaatmadja. Tetapi kalau berharap pada pemerintah terlalu lama, sebaiknya memang peranan investasi swasta dengan modal besar sangat dibutuhkan. Induk berkualitas sangat baik untuk melebarkan sayap peternakan kelinci di berbagai daerah. Investasi bibit unggul ini selain paling menguntungkan untuk saat ini (lihat potensi peluang usaha bibit unggul di Buku Ternak Uang), juga sangat bermanfaat bagi peternak lain supaya mereka mendapatkan bibit unggul yang baik. Karena itu saya menyarankan secara terbuka pihak swasta bermodal besar untuk investasi secepatnya kepada peternak handal.

Investasi Sendiri Membuat Keberhasilan.

Banyak para investor atau yang punya dana untuk menginvestasikan dananya untuk beternak yang menghasilkan, diantaranya mereka ingin berinvestasi pada peternak kelinci dengan bagi hasil. Sebaliknya, para peternak kelinci selalu ingin ternak cepat menghasilkan, yaitu dengan menjual anakan kelinci yang masih muda, karena sangat menguntungkan, tetapi dilain pihak, peternak tidak bisa mengembangkan kelinci karena generasi penerusnya telah dijual.
Secara bisnis dan peluang, peternak berpeluang untuk mengembangkan ternak kelincinya dengan cara menerima tawaran investasi dari investor. Memang logika ini masuk akal dan rasional. Namun sebenarnya kita menerima investor untuk menanamkan dananya pada ternak kelinci membuat kita sibuk, banyak pikiran, kemrungsung (Jw) sehingga mengganggu ternak kelincinya.
Banyak para peternak sebelum diberikan pinjaman atau bekerjasama dengan investor kelincinya dapat berkembang biak dan maju, namun setelah mendapatkan pinjaman atau mengelola dengan dana orang lain justu ternak kelinci menjadi surut atau banyak kendala, misalnya banyaknya penyakit yang menyerang, kematian tinggi terutama pada brindil.
Apa penyebabnya? Sangat mudah, karena setelah diberikan pinjaman atau bekerjasama dengan investor, kita merasa terbebani, merasa besalah bila tidak berhasil, merasa bingung bila ketemu dengan penyandang dana.  Inilah  yang menjadi penyebab utama.
Tapi semuanya kami serahkan pada saudara. Percaya atau tidak, silahkan untuk membuktikan. Lalu bagaimana cara membesarkan usaha peternakannya? Lakukan hal-hal dibawa ini :
1. Jangan menjual anakan kelinci untuk anakan yang ke 3, ke 4, ke 5 dan ke 6, ke 7
2. Silahkan anakan pertama, kedua dan anakan yang lebih dari ke tujuh untuk dijual
3. Besarkan anak kelinci hingga umur enam bulan, untuk yang jantan, tukarkanlah kepada teman peternak anda (fungsi kelompok sangat bemanfaat)
4. Carilah bibit unggul dari peternak yang dapat dipertanggungjawabkan.
Mengapa untuk bibit harus dari keturunan ke 3,4,5,6,7? Karena anakan yang pertama dan kedua biasanya induknya kurang berpengalaman, sehingga anak-anaknya banyak yang kurang terurus dengan baik oleh induknya. Bila anakan ke 3-7 biasanya induk sudah berpengalaman mengasuh anaknya, otomatis kualitas anak untuk dijadikan induk juga matang. Tapi ada peternak yang anak pertama juga dijadikan induk, toh bisa juga. Tapi disarankan setelah anakan kedua saja, karena dari pengalaman para breeder, itu yang paling bagus.
Dengan demikian, maka ternak saudara akan berkembang dalam waktu tahun pertama dan tahun kedua

PARADIGMA DASAR WIRAUSAHA KELINCI

-Ikhtiar Memajukan Peternakan Kelinci Melalui Investasi dan Pemberdayaan
Sebelum masuk ke pembahasan tentang ternak kelinci, mari kita memakai landasan berpikir lebih mendasar dalam hal ini. 
Mula-mula dalam melihat “ternak kelinci” kita mesti memakai dua kombinasi pemikiran, yakni abstrak dan praktis. Keduanya sangat penting. Sekalipun bidang usaha sangat didominasi oleh hal-hal yang pragmatis, tetapi untuk menguasai komponen pragmatisme itu mestilah menguasai abstraksi. Dengan paradigma yang baik, kita bisa melihat secara gamblang ragam kerumitan yang terjadi di dalamnya.

Kata potensi memang perlu didudukkan pada awal pembicaraan kelinci karena memang disitulah ketertarikan kita semua: utamanya sebagai pendulang uang, selainnya ialah alternatif untuk pemberdayaan masyarakat desa, peluang bisnis dan selebihnya ialah untuk hobies. Tiada salah kita meletakkan uang sebagai tujuan. Bahkan dalam banyak hal saya menyarankan uang menjadi sasaran utama. Tetapi di sini paradigma tentang uang juga mesti ditafsir secara tepat, yakni sebagai “efek” dari kecanggihan kita mengolah potensi. Sebab sebesar apapun potensi dan semudah apapun mengurus pekerjaan, jika tidak diolah (dikelola) secara baik niscaya akan terlantar.

Dari kacamata kewirausahaan, setiap hal memang memiliki peluang karena kelebihannya. Kelebihan kelinci diantaranya ialah kecepatan reproduksi, cocok untuk usaha rakyat kecil, banyak manfaat, masih sangat minim pemelihara dan pasar sangat luas terbuka. Bahkan kami punya keyakinan, sampai beberapa tahun ke depan bisnis kelinci tiada butuh persaingan. Dengan kata lain, dari sisi produksi bisa cepat, banyak manfaat, bisa dikerjakan banyak orang, bisa dengan modal murah, dan menjualnya pun ”mudah.”


Masalahnya, Kenapa Selama Ini Terabaikan Oleh Masyarakat Kita?
Pertanyaan ini perlu saya ajukan sebelum nanti kita kembali membahas masalah mengelola potensi kelinci. Beberapa alasan sudah saya sampaikan di Buku Ternak Uang (Nuansa Cendekia Juli 2009). Pertama, masyarakat kita sudah jauh dari “ideologi” beternak maupun bertani. Kedua, tidak memiliki lahan dan sarana pendukung, seperti pasokan rumput, pengelolaan pakan dan lain sebagainya. Ketiga, kelinci impor dengan model pemeliharaan modern untuk skala besar belum banyak diketahui masyarakat.Tiga alasan dengan penjelasan lebih detail dalam buku ternak uang tersebut saya kira sudah cukup untuk menjawab. Tetapi ada baiknya saya tambahkan satu hal lagi, yakni bahwa ketidakseriusan pemerintah dalam melihat peluang ini. Akan menjadi lain masalahnya manakala pemerintah bersikap serius dan agresif seperti Cina dan Vietnam di mana di kedua negara itu kini sudah merasakan potensi peluang usaha kelinci, terutama di Cina.
Dua hal yang mendasar dari ketidakseriusan pemerintah itu diantaranya ialah tidak melihat para peternak kelinci sebagai aset dan memberikan insentif bibit unggul dan pemberdayaan secara serius. Bagaimanapun juga, di mana pun juga, setiap usaha tidak sekedar butuh modal uang, melainkan juga ilmu pengetahuan dan urusan pasar. Kalau kita selalu melihat bahwa negara punya kewajiban mencerdaskan rakyatnya, maka di sinilah terlihat jelas bagaimana peranan negara kita tidak nyambung. Seolah-olah pendidikan hanya dalam ruang lingkup akademisi semata.
Hal ini sangat terasa manakala berbagai penemuan lapangan setiap kali Pemerintah Daerah (Pemda) mengadakan pemberdayaan ternak kelinci hanya difokuskan adalah insentif modal uang semata. Di Jawa Barat banyak peternak hasil “pemberdayaan” Pemda gagal total karena ketidakseriusan memperhatikan SDM.

Landasan Ilmu
Kembali ke soal peluang, maka sesungguhnya hal yang terpenting dari maju dan tidaknya ternak kelinci secara modern (dari hulu ke hilir = dari kandang ke pasar) sangat membutuhkan pasokan ilmu pengetahuan yang kuat, motivasi yang handal serta komitmen menjadi usahawan kelinci sejati. Pengalaman di lapangan membuktikan, bahwa kemiskinan ilmu pengetahuan lebih berbahaya ketimbang kemiskinan materi (modal uang). Kita harus mendudukkan bahwa kebodohan dan kemiskinan ini adalah ratai kasar, belenggu, yang harus dilepaskan terlebih dahulu. Tetapi kalau keduanya tidak bisa dilepaskan seketika, maka saya akan mengusulkan lebih penting melepaskan belenggu kebodohan terlebih dahulu, baru kemudian kita melepaskan kemiskinan.
Strategi konkretnya untuk meraih sukses sebuah peternakan di kalangan kaum tani bisa kita mulai dengan pemberdayaan di beberapa orang, maksimal 10 orang. Dari 10 orang ini saja mesti dibutuhkan leadership yang handal. Jika tidak ada leader dari salahsatu peternak tersebut dipastikan sulit berkembang karena biasanya dalam masa sulit peternak pemula yang kurang tangguh sering gulung tikar. Dengan ada leader yang kuat, diharapkan mereka yang gulung tidak tidak mempengaruhi peternak lain yang belum berkembang bagus.
Dalam skala memulai usaha ternak bersama dengan jumlah lebih sedikit, yakni 3-5 orang manajemen kontrol barangkali lebih mudah. Dengan pola kecil merayap tetapi serius ini, diharapkan tingkat kerugian lebih kecil. Manajemen ini saya ajukan sebagai pola konservatif, tetapi memiliki resiko yang kecil. Memang sedikit agak lambat, tapi lebih aman. Sedangkan bagi yang menginginkan gerakan lebih cepat saya ajukan usulan untuk beternak sendiri terlebih dahulu selama satu sampai 1,5 tahun, baru kemudian menularkan modal bibit ke peternak lain. Selama masa setahun ini kita bisa menggaulkan orang terdekat untuk menimba ilmu pengetahuan. Baru kemudian diseriuskan ke arah peternakan yang lebih banyak dan dibesarkan.
Adapun untuk peternak yang memulai usaha untuk sendiri barangkali lebih mudah karena tidak perlu memobilisasi ilmu kepada orang lain. Ternak individu adalah langkah awal yang lebih efektif. Berniat sendiri, bermodal sendiri, kreatif sendiri, menggembleng pemikiran dan etos kerja sendiri adalah pilar dasar yang paling baik. Setelah kelak sukses barulah kemudian ilmu pengetahuan dan pengalamannya ditularkan. Selama tidak pelit dan memiliki semangat sosial yang tinggi, orang seperti ini akan menjadi panutan banyak peternak lain, sebagai contoh adalah Asep Sutisna, ketua Paguyuban Peternak Kelinci di Lembang Bandung atau Ren Zuping dari China.

Kita bisa berkaca pada dunia pertanian (tradisional) dan agribisnis(wirausaha tani modern). Di sana memang terletak jurang permodalan yang sangat besar, tetapi di luar modal sesungguhnya ilmu pengetahuan menjadi pembeda yang paling substansial untuk menyatakan bahwa pertanian itu identik dengan kemiskinan sementara agribisnis sarat dengan kemakmuran dan stabilitas penghasilan. Dalam peternakan modern (terkait dengan konsep domestifikasi ternak kelinci ini), maka kita pun mesti berpikir demikian.
Kita sering berpikir bahwa memelihara kelinci itu mudah karena masyarakat kita sudah terbiasa dengan kelinci. Logika itu sangat menyesatkan karena kelinci umbaran terbukti tidak menghasilkan nilai ekonomis yang baik. Di sini kita harus memperhatikan apa itu domestifikasi peternakan. Beberapa hal yang penting ialah bahwa, pertama perawatan kelinci secara domestik adalah memenjarakan kelinci (hewan liar) dalam sebuah kehidupan yang sempit. Kita mesti memakai pola kehidupan yang membuat kelinci benar-benar nyaman, senang dan kerasan, terhindar dari stress sehingga mampu berproduksi secara baik.
Satu hal ini saja seringkali diabaikan. Terlihat di berbagai kandang petani kebersihan, pasokan makanan dan kenyamanan sering diabaikan. Karena itulah saya sering melihat kenyataan ini mengakibatkan tingkat produktivitasnya rendah dibanding dengan peternak yang benar-benar berilmu dan berpikir maju.
Kedua, dari berbagai praktik peternakan, ternyata mereka para peternak yang bertahan lama memiliki rasionalitas dan etos kerja yang baik. Rasionalitas dalam hal ini bukan semata diukur kecerdasan akademik, melainkan lebih pada sikap sungguh-sungguh dalam belajar dan serius menerapkan teori-teori sekaligus kreatif dalam mengatasi setiap masalah, terutama dalam hal problem pakan dan kesehatan.
Jadi masalahnya bukan terletak pada bakat/waris atau tidaknya, melainkan bagaimana bersungguh-sungguh dalam menerapkan paradigma ternak yang berpijak pada ilmu ternak. Karena itu kalau bicara ideal tentang pemberdayaan awal ternak di suatu desa yang belum memahami ternak kelinci domestik mestinya akan lebih bagus jika dirintis lebih sedikit orang tetapi dalam setahun kemudian mampu memproduksi banyak kelinci, baik untuk bibit masyarakat sekitar maupun untuk pembukaan usaha pasca panen.
Dengan kesuksesan satu orang itu saja, kita tidak butuh meyakinkan secara lisan bahwa kelinci memiliki potensi. Masyarakat kita adalah masyarakat berpikir empiris. Manakala diceritakan secara lisan maupun tulisan mereka tidak akan yakin dan fatalnya jika melihat kesuksesan itu secara fenomenologis, mereka menganggap diri mereka sudah mahir dan langsung tancap gas. Akibatnya sering fatal. Tetapi manakala sudah melihat secara empiris dalam kurun waktu yang cukup lama, berbulan-bulan, dengan sendirinya mereka akan menyaksikan bagaimana proses dan kesuksesan itu berjalan secara sebanding.
Rasanya memang tidak terlalu penting mengampanyekan potensi kelinci kepada masyarakat secara terus-menerus. Sebab, kalaupun masyarakat petani percaya dan langsung beternak, tidak banyak yang membuktikan kesuksesan. Masalah-masalah yang membuat ternak gagal biasanya bukan pada penjualan, melainkan pada level produksi, terutama mengatasi angka kematian yang tinggi, rendahnya produktivitas dan di luar itu satu masalah lagi ialah kurang seriusnya menjadi peternak.
Kekurang-seriusan menjadi peternak kelinci ini biasanya karena salah dalam melihat kelinci sebagai hewan yang pemeliharaannya harus dibedakan dengan ternak ayam, kambing dan sapi. Di sini soal mentalitas dan etos kerja mesti diperhatikan sungguh-sungguh. Karena itu akan lebih penting dan mendasar manakala kita memberikan bukti kepada masyarakat dengan memperkuat satu dua peternak di daerah untuk kemudian menjadi leader bagi warga sekitar, melebar hingga dua kecamatan. Kalau kelak kemajuan sudah mencapai tahap yang lebih luas, di situ kita akan bicara tentang pentingnya koperasi sebagai pilar dasar kebersamaan dalam menghadapi problematika pasar.

Selasa, 02 November 2010

Flemish Giant

FLEMISH GIANT




Setiap abu-abu, baja, naungan berpasir atau lainnya di perut atau di bawah ekor Bank, kecuali terlihat uban di selangkangan masing-masing, akan didiskualifikasi 2. UKURAN & BERAT - Bucks tidak boleh kurang dari 4,974 kg (11 lb) atau tidak kurang dari 5,44 kg (12 lb). Ukuran harus dipertimbangkan terlepas dari berat 3. BODY - Besar, lapang dan datar, kedepan luas dan bagian belakangnya.
4. KAKI & LENGAN - Panjangnya proporsional dengan tubuh, tulang kuat, besar dan lurus. Kaki harus beludru, gelap dan dicentang. Berdetik untuk menunjukkan kapan mantel digosok kembali 5. HEAD & TELINGA - Kepala akan menjadi besar, penuh dan indah. Mata harus berani dan coklat tua dalam warna. Telinga harus tegak. wajah gelap diperbolehkan. 6. KONDISI - Full pendek mantel, teguh dalam daging dan agak tebal. Bebas dari dingin.
INTERMEDIATE CLASS Poin
  
1) Warna 30
 
2) 30 Fur
 
3) Jenis & Bentuk 40
 
 
Jumlah  100
INTERMEDIATE CLASS
  
1. WARNA - baja abu-abu Gelap dengan genap atau bergelombang berdetak atas seluruh, kepala badan, dada telinga, dan kaki sama, kecuali perut dan bawah ekor yang harus putih, di atas permukaan bulu. Setiap abu-abu, baja, naungan berpasir atau lainnya di perut atau di bawah ekor, kecuali terlihat uban di selangkangan masing-masing, akan didiskualifikasi. 2. FUR - kemerataan, kepenuhan, kualitas dan kondisi mantel dan kelinci 3. JENIS & BENTUK - secara proporsional karena Standar Giant. Berat. Bucks bawah 4,97 kg (lllb). Apakah di bawah 5,44 kg (121b.) Umur over6 bulan. Kesalahan-Bagginess dan berlebihan lemak, kelebihan rambut putih dalam tubuh, ruddiness baik di permukaan atau lapisan bawah, pantat persegi atau dipotong-off; kepala berbentuk baji putih-kuku kaki, telinga buruk kereta, mantel moulty; ruddiness berlebihan belakang telinga, kaki hitam, orears kepala, ekor kecut

Amplifikasi WARNA Di bawah harus biru di dasar untuk sedikit lebih dari sepertiga dari panjang, lalu hitam, penggabungan ke dalam krim, atau putih kebiruan berdetik yang mungkin lagi berujung dengan hitam. Dalam spesimen bahkan-dicentang, campuran harus menunjukkan abu-abu dan setengah hitam setengah tip rambut atas seluruh wajah, leher tubuh, dan telinga, tetapi mungkin diselingi dengan rambut hitam legam lagi, bahkan baik dan bergelombang berdetak yang diperbolehkan. Seluruh harus seragam dalam warna. Ini hamster menjadi putih dengan undercolour biru. Ekor harus dicentang agak gelap di atas, putih di bawah.
1. WARNA. abu-abu baja gelap, baik sebagian maupun atas seluruh tubuh, telinga kepala, dada dan kaki sama, kecuali perut dan bawah ekor yang harus putih, di atas permukaan bulu -
1) Warna 30
 
2) Ukuran & Berat 20
 
3) Tubuh 15
 
4) Kaki dan Kaki 15
 
5) Kepala & Telinga 10
 
6) Kondisi 10
 
 
Jumlah  100